JAKARTA—Nama seorang Jenderal Bintang Tiga di Korps Mabes Polri ramai disebut terlibat kasus mafia pajak dengan tersangka Gayus Halomoan Tambunan. Sementara itu, Polri dipastikan kecolongan, setelah dua jenderalnya, Brigjen Edmon Ilyas dan Brigjen Raja terindikasi kuat melanggar kode etik.
Indikasi keterlibatan jenderal bintang tiga dalam kasus mafia pajak, dikemukakan anggota Komisi III DPR RI, Bambang Soesatyo. ”Ada indikasi perwira di atas bintang satu. Untuk itu pemeriksaan kalau perlu sampai bintang tiga,” kata Bambang, Sabtu (3/4).
Bambang enggan menyebutkan siapa nama jenderal bintang tiga itu. Apakah sang jenderal masih aktif atau tidak. Pastinya, pengusutan harus dilakukan menyeluruh agar citra Polri pulih. ”Gayus sudah ’bernyanyi’, modus operandi sudah diungkap soal aliran dana, Kapolri jangan menutup-nutupi fakta yang ada,” ujarnya.

Dia menjelaskan tindakan tegas pada perwira yang terlibat diperlukan agar memberikan efek jera. ”Kalau memang benar ada indikasi kuat mengarah kepada bintang tiga, jangan ditutupi lagi,” jelasnya. Kasus Gayus merupakan pintu masuk dan pembenahan ke dalam Polri, sehingga reformasi yang dilakukan Polri akan lebih maksimal. ”Semuanya harus dibuka agar terang benderang,” tutupnya.
Mabes Polri sebelumnya telah mencopot Brigjen Pol Edmond Ilyas dari jabatan Kapolda Lampung terkait kasus Gayus. Edmon yang pernah menjabat Direktur Ekonomi Khusus Bareskrim Mabes Polri saat ini berstatus terperiksa. Dua perwira Mabes Polri juga sudah dibebastugaskan dari Bareskrim Mabes Polri. Mereka adalah Kombes Pol Pambudi dan Kombes Pol Eko Budi. Mabes Polri juga sudah menetapkan tersangka, yakni Kompol Arafat dan AKP S.
Menanggapi pernyataan Bambang Soesatyo, penasihat Kapolri, Kastorius Sinaga menegaskan Mabes Polri siap melibas semua jenderal yang terlibat. ”Prinsip yang ada di Mabes Polri, sampai bintang tujuh pun akan dilibas. Ini sudah prinsip kepolisian,” kata Kastorius Sabtu (3/4). Keterbukaan dan pengusutan secara tuntas itu, lanjut Kastorius, merupakan upaya Polri untuk melakukan reformasi di tubuh kepolisian. ”Kita harapkan masyarakat bisa meyakini, bahwa, semua akan dibuka dan dibongkar tuntas,” terangnya.
Kastorius menjelaskan, Polri sudah memberikan bukti pada 2005 lalu terkait kasus L/C bodong BNI yang dilakukan Adrian Woworuntu. Seorang bintang tiga, yakni Suyitno Landung yang menjabat Kabareskrim pun diusut pidananya. ”Polri sudah pengalaman, jadi bukan yang wah,” tutupnya.
Langgar Kode Etik
Fakta terbaru, dua jenderal yang namanya pernah disebut mantan Kabareskrim Komjen Susno Duadji terlibat mafia pajak, yakni Brigjen Edmon dan Brigjen Raja kini disebut-sebut terindikasi kuat telah melanggar kode etik. Keduanya dinilai lalai dalam penanganan kasus itu. ”Terkait penanganan oleh Divisi Propam, terperiksa ada indikasi melakukan kelalaian dalam menangani kasus. Indikasinya pelanggaran kode etik,” kata Wakadiv Humas Mabes Polri Brigjen Pol Sulistyo Ishak di Mabes Polri, Jl Trunojoyo, Jakarta, Sabtu (3/4).
Edmon yang pernah menjabat sebagai Direktur Ekonomi Khusus Bareskrim Polri, dan Raja sebagai penggantinya dinilai tidak melaksanakan prosedur yang diharuskan. ”Mestinya dilakukan penahanan, tetapi tidak dilakukan penahanan,” tambahnya.
Sementara itu, dalam rapat analisis dan evaluasi yang dilakukan Polri, sejauh ini tiga tim yang dibentuk sudah melakukan cek dan ricek. ”Yang perlu disampaikan, sudah ditahan tujuh orang, yaitu GT (Gayus Tambunan), AK (Andi Kosasih), SS (perwira Polri berpangkat AKP), A (Kompol Arafat), L, HH (Haposan Hutagalung), dan AL. Untuk agenda hari ini dilakukan pemeriksaan atas tersangka yang sudah ditahan,” terangnya.
Kastorius menambahkan, dalam kasus mafia pajak dengan pelaku utama Gayus Tambunan, terkuak banyak perusahaan besar yang setor uang ke Gayus. Bahkan, uang di rekening Gayus senilai Rp 28 miliar diketahui merupakan setoran sejumlah perusahaan besar.
Informasi terbaru, setidaknya, 149 perusahaan yang ditangani Gayus Tambunan yang telah memberi ”upeti” kepada Gayus. Seperti dikutip inilah.com, 50 persen dari 149 perusahaan itu, merupakan perusahaan besar dan terkenal. Beberapa nama perusahaan besar yang pajaknya ditangani Gayus yakni, PT Exelcomindo Pratama, PT Bukaka, PT Newmont Nusantara, PT Syun Hyundai, PT Prudential, PT Pertamina Dana Sentitas, PT BUMI.
Kemudian, PT Tegas Exporindo Java. Selain itu, perusahaan Kertas Indah Kiat Pulp and Paper, Indocement Tunggal Prakarsa, Kapuas Prima Coal, dan PT Wijaya Karya. Sebagai catatan, Gayus sempat menerima Rp 370 juta dari perusahaan garmen PT Megah Citra Jaya Garmindo.