Pekanbaru – Anggota Detasemen Polisi Militer (Denpom) Pekanbaru, Riau, diduga melakukan penganiayaan terhadap juru parkir bernama Arjuardi (43). Korban dipukuli, dihantam memakai kursi kayu, lantas diseret ke tengah jalan.

Kondisi korban mengalami luka parah, namun saat ini dia hanya dapat terbaring di rumahnya karena tidak mempunyai biaya untuk berobat. Rencananya, Arjuardi dan keluarganya akan melaporkan kasus yang dialaminya itu ke Poltabes Pekanbaru.

“Adik saya saat ini hanya dapat berbaring, karena bagian bahu dan kepalanya dipukul dengan kursi yang terbuat dari kayu. Bagian pelipis depan terkoyak dan banyak mengeluarkan darah saat kejadian itu,” kata kakak korban, Nurmaini, kepada detikcom, Rabu (7/4/2010).

Dia menceritakan, peristiwa penganiayaan terhadap adiknya ini disebabkan karena persoalan yang sepele. Kejadian bermula pada Selasa (6/4) sore. Saat itu, salah satu mobil parkir di RM Sederhana, Jl Ahmad Yani, Pekanbaru. Rumah makan itu persis berada di depan Poltabes Pekanbaru dan hanya berjarak 500 meter dari markas PM.

Ketika salah satu mobil akan keluar, Arjuardi sibuk mengurus mobil lainnya karena lokasi parkir memang sempit. Merasa mobilnya diabaikan Arjuardi, sopir mobil yang akan meninggalkan restoran itu lantas menggugat karena merasa tidak dilayani.

“Arjuardi bilang, ‘bukan saya tidak mau melayani, tapi karena mobil banyak’,” kata Arjuardi seperti ditirukan Nurmaini.

“‘Kamu tahu nggak siapa saya? Saya ini orang Pemkot,'” timpal sopir laki-laki itu kepada Arjuardi.

Menurut Nurmaini, setelah sopir mobil itu pergi, persoalan sebenarnya telah selesai. Namun, dua jam sejak kejadian itu, seorang anggota PM bernama Kurniawan datang dan mempertanyaan keributan yang terjadi. Ia mengaku sebagai sopir komandan CPM dan menyebutkan bahwa PNS Pemkot tadi merupakan sahabat komandannya. Kurniawan mengenakan kaos hijau khas TNI, celana militer dan bersepatu lars.

Lantas Kurniawan melakukan pemukulan beberapa kali di depan rumah makan. Arjuardi lari ke rumah kakaknya yang berada di belakang rumah makan itu. Lima menit kemudian, Kurniawan datang lagi menemui korban yang sedang duduk di bangku kayu. Korban ditarik kemudian dipukuli.

Nurmaini yang menyaksikan langsung peristiwa itu hanya bisa menangis dan memohon agar Arjuardi tidak dipukuli. Namun anggota PM itu justru membabi buta dan terus memukuli adiknya serta menyeret korban ke kantor CPM.

Setelah diseret sepanjang 50 meter, Arjuardi berusaha untuk melepaskan diri. Setelah lepas, dia lari ke Mapoltabes. Dari situlah korban lantas diamankan dari personel PM yang berusaha mengambilnya.

Menurut Nurmaini, Kurniawan sempat melontarkan kata-kata yang bernada menantang kepada pihak korban. “Silakan melapor ke mana saja, saya tidak takut,” kata dia.

Bantah Aniaya

Saat dikonfirmasi mengenai hal ini, Pasi Lipkrim Detasemen Polisi Militer, (Denpom) Pekanbaru, Kapten Hariadi, membantah keras. Menurutnya, anggota PM tersebut sama sekali tidak ada melakukan pemukulan sebagaimana tudingan pihak keluarga korban.

“Tidak benar ada pemukulan dengan kursi kayu, yang ada hanya melemparkan kursi plastik saja. Itupun terpaksa dilakukan karena juru parkir itu membawa pisau untuk menusuk anggota kita,” katanya.

Dia menjelaskan masalah ini sudah ditangani Denpom Pekanbaru dan sudah dilakukan pemanggilan semua pihak untuk diajak musyawarah. “Jadi sama sekali tidak benar tudingan penganiayaan itu,” tegasnya.

Dia menjelaskan, bahwa juru parkir Arjuardi yang bertugas di rumah makan itu, selama ini memang sering buat ulah. Kadang dengan iseng menggores mobil yang ada di sana. Arjuardi juga pernah mencuri radio HT milik Denpom Pekanbaru. Kasus inipun sudah pernah dilaporkan ke Poltabes Pekanbaru.

“Hanya saja, saat itu dia terpaksa dibebaskan pihak kepolisian. Ini karena hasil pemeriksaan ternyata dia mengalami gangguan jiwa,” katanya.

Arjuardi dalam kesehariannya juga mengantongi kartu kuning (tanda orang gila). Karena gilanya inilah, dalam bertugas parkir dengan sesuka hatinya saja.

“Sebenarnya pihak rumah makan pun sudah keberatan dia bekerja disana. Namun karena dia ada gila-gilanya, pihak rumah makan akhirnya hanya diam saja,” kata Hariadi.